Soroban Colette lahir dari kebutuhan untuk mempertahankan tradisi pendidikan abakus di tengah tantangan zaman. Di Jepang, abakus atau soroban bukan sekadar alat hitung, melainkan bagian penting dari pembelajaran keterampilan dan pelatihan otak anak-anak. Namun, keterbatasan desain akibat proses produksi tradisional dan kelangkaan bahan baku membuat pilihan bagi anak semakin terbatas, sementara produsen menghadapi masalah seperti menurunnya jumlah pengrajin dan ketersediaan material.
Toshihiko Sakai menawarkan solusi inovatif melalui Soroban Colette, yang mengubah paradigma desain abakus konvensional. Tidak lagi berbentuk kaku dengan sudut tajam, Soroban Colette tampil dengan sudut membulat yang lebih aman bagi anak-anak. Desain ini juga menghilangkan penggunaan sekrup, paku, maupun perekat, sehingga produk menjadi sangat aman untuk digunakan oleh anak usia dini. Pilihan warna yang beragam menambah daya tarik, memberikan kebebasan bagi anak untuk memilih sesuai preferensi mereka.
Keunggulan lain dari Soroban Colette terletak pada efisiensi produksinya. Dengan mengintegrasikan bagian balok dan poros seperti struktur tulang ikan, jumlah komponen berhasil dikurangi hingga 40% dibandingkan abakus tradisional. Lebih dari 60% bobot produk berasal dari material daur ulang, menjadikan Soroban Colette sebagai produk yang ramah lingkungan dan tidak lagi bergantung pada kayu langka seperti boxwood yang kini terancam punah.
Secara teknis, Soroban Colette memiliki 20 digit—lebih sedikit dari abakus tradisional yang umumnya 23 digit—sehingga ideal untuk pemula dan mudah disimpan di dalam tas sekolah berukuran A4. Tubuh utama terbuat dari polikarbonat daur ulang, sementara manik-maniknya menggunakan polistirena. Dengan berat hanya 158 gram dan dimensi yang ringkas, Soroban Colette tetap mempertahankan fungsi penuh sebagai alat hitung untuk penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Proses realisasi Soroban Colette memerlukan riset mendalam terhadap industri rumahan abakus yang selama ini melibatkan hampir 200 tahapan produksi dan banyak tenaga kerja terampil. Dengan menurunnya jumlah pengrajin dan keterbatasan bahan baku, produksi abakus di Jepang kini hanya sekitar 150.000 unit per tahun, jauh menurun dari puncaknya yang mencapai 3 juta unit. Inovasi desain dan material pada Soroban Colette menjadi jawaban atas tantangan tersebut, sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi pendidikan abakus.
Soroban Colette telah memperoleh pengakuan internasional dengan meraih Bronze A' Design Award 2025 untuk kategori Art and Stationery Supplies Design. Penghargaan ini menegaskan kontribusi Soroban Colette dalam meningkatkan kualitas hidup melalui perpaduan seni, sains, desain, dan teknologi. Inovasi ini tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga membawa semangat baru bagi pendidikan dan kreativitas anak-anak di era modern.
Desainer Proyek: Toshihiko Sakai
Kredit Gambar: N/A
Anggota Tim Proyek: Toshihiko Sakai
Nama Proyek: Soroban Colette
Klien Proyek: Asahi Printing Co., Ltd.