Di tengah kepadatan kota besar seperti Tokyo, kedekatan antar rumah menjadi keniscayaan. Banyak hunian modern kini lebih menitikberatkan pada isolasi, kedap udara, dan efisiensi energi, sehingga penghuni kerap menutup tirai demi menjaga privasi dari jalan dan tetangga. Namun, tradisi arsitektur Jepang justru menonjolkan harmoni dengan alam dan lingkungan sekitar, mencerminkan gaya hidup yang menyatu dengan musim dan cahaya alami. Konsep inilah yang menjadi inspirasi utama proyek Yokohama Tsuzuki, sebuah karya arsitektur yang mengajak masyarakat urban untuk kembali merangkul nilai-nilai tradisional yang mulai terlupakan.
Shin Takamatsu dan Kei Tamai menghadirkan rumah yang mengedepankan keterhubungan dengan langit, bahkan di tengah kawasan permukiman yang padat. Desainnya berpusat pada sebuah halaman luas di tengah bangunan, yang menghubungkan setiap ruangan dan menciptakan kesatuan ruang. Dengan demikian, di mana pun posisi penghuni berada, langit selalu hadir sebagai elemen utama, memberikan nuansa terbuka dan menenangkan. Konsep ini tidak hanya memperkuat hubungan dengan alam, tetapi juga memperkaya pengalaman ruang melalui cahaya, udara, dan perubahan musim yang dapat dinikmati dari dalam rumah.
Secara teknis, rumah ini berdiri di atas lahan seluas 213,98 meter persegi dengan luas bangunan 85,29 meter persegi dan total luas lantai 160,02 meter persegi. Seluruh ruangan mengelilingi halaman tengah yang dirancang sebesar mungkin sesuai regulasi, menciptakan efek ruang satu kesatuan yang fleksibel. Setiap sudut rumah mendapatkan pencahayaan alami dan sirkulasi udara yang optimal, sehingga suasana di dalam rumah selalu terasa segar dan dinamis. Halaman tengah juga menjadi pusat aktivitas keluarga, menghadirkan rasa lapang dan relaksasi yang melampaui ukuran fisiknya.
Inspirasi desain ini berakar pada rumah tradisional Jepang seperti machiya di Kyoto, yang dikenal dengan taman di tengah bangunan untuk menghadirkan cahaya dan udara ke seluruh ruang. Berbeda dengan rumah modern yang cenderung tertutup dan bergantung pada teknologi, pendekatan ini berupaya mengurangi konsumsi energi sekaligus menghidupkan kembali gaya hidup yang menghargai alam. Penelitian mendalam terhadap arsitektur tradisional menjadi dasar pengembangan proyek ini, yang bertujuan menciptakan hunian berkelanjutan dan berkualitas tinggi di tengah tantangan urbanisasi.
Proses perancangan Yokohama Tsuzuki dimulai sejak 2014, melalui kolaborasi intens antara arsitek dan pemilik rumah. Setelah visi desain ditetapkan pada 2016, proyek ini berkembang menjadi serangkaian karya seperti “around the sky”, “with the sky”, dan “along the sky”, yang semuanya menonjolkan hubungan dengan langit. Tahun ini, dua bangunan bertajuk “in the sky” telah rampung dibangun, menandai keberlanjutan visi arsitektur yang konsisten. Tantangan terbesar dalam proyek ini adalah menjaga kualitas di tengah tekanan pasar dan keterbatasan anggaran, namun kolaborasi dengan arsitek ternama menjadi kunci keberhasilan dalam menghadirkan hunian bernilai tinggi.
Pengakuan atas keunggulan desain ini dibuktikan dengan diraihnya Bronze A' Design Award 2025 dalam kategori Arsitektur, Bangunan, dan Struktur. Penghargaan ini diberikan kepada karya yang tidak hanya inovatif dan teknis, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas hidup. Yokohama Tsuzuki menjadi contoh nyata bagaimana arsitektur dapat menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, menghadirkan ruang hidup yang harmonis, sehat, dan inspiratif bagi masyarakat urban masa kini.
Desainer Proyek: Kei Tamai
Kredit Gambar: Kei Tamai
Anggota Tim Proyek: architect:Shin Takamatsu
designer:Shin Takamatsu
Nama Proyek: Yokohama Tsuzuki
Klien Proyek: SKYMISSION