Kebutuhan akan alat prototyping elektronik yang mudah diakses dan interaktif semakin meningkat seiring berkembangnya teknologi digital dan pendidikan berbasis STEM. Commi Board, karya Kevin Yang, menjawab tantangan ini dengan menawarkan platform modular yang terintegrasi dengan aplikasi mobile, memungkinkan pengguna dari berbagai tingkat keahlian untuk merancang, menguji, dan memprogram rangkaian elektronik secara langsung melalui smartphone. Inovasi ini terinspirasi dari pemrograman visual, pendidikan bertahap, dan teknologi AI berbasis neuro-linguistic programming, sehingga mempertemukan teori dan praktik dalam satu ekosistem yang mudah diakses.
Keunikan Commi Board terletak pada kemampuannya mensimulasikan fungsi mikrokontroler secara real-time di perangkat seluler. Pengguna dapat menempatkan komponen elektronik pada papan, menghubungkannya melalui USB-C atau Bluetooth, dan langsung berinteraksi melalui aplikasi. Sistem ini mendukung empat metode pemrograman: AI berbasis NLP, pemrograman visual berbentuk puzzle, pemrograman visual ala Scratch, serta IDE penuh untuk pengguna tingkat lanjut. Dengan fitur umpan balik waktu nyata dan panduan visual, proses belajar dan eksperimen menjadi lebih intuitif dan menyenangkan.
Secara teknis, Commi Board mengintegrasikan desain PCB, framework IoT, serta protokol USB-C 3.2, BLE, dan Bluetooth untuk komunikasi GPIO yang efisien dengan perangkat pintar. Dengan memanfaatkan kekuatan komputasi mobile, platform ini mampu mensimulasikan sebagian besar mikrokontroler yang umum digunakan dalam pendidikan dan pengembangan prototipe. Dimensi ringkasnya (62mm x 98mm x 18mm dalam kondisi terpasang) mendukung portabilitas, sementara komunitas proyek dan perpustakaan komponen daring memperkaya pengalaman pengguna.
Riset di balik Commi Board menekankan pada desain berpusat pada manusia dan aksesibilitas dalam prototyping elektronik. Studi perbandingan daftar komponen (BOM) dan kebutuhan pengguna, khususnya mahasiswa dan penggemar teknologi, menunjukkan bahwa komunikasi GPIO merupakan alternatif hemat biaya dibandingkan mikrokontroler berdaya tinggi. Uji coba kegunaan dan masukan dari para ahli turut membentuk pengembangan produk, sementara sumber daya open-source mempercepat pembuatan prototipe PCB secara teoretis.
Tantangan terbesar dalam pengembangan Commi Board adalah menyederhanakan desain PCB tanpa mengorbankan keandalan komunikasi GPIO. Integrasi USB-C, BLE, dan Bluetooth dalam papan modular yang ringkas memerlukan iterasi desain berulang. Keterbatasan akses ke teknologi SMT PCB juga menjadi hambatan, namun pengujian koneksi Bluetooth dan USB-C telah membuktikan potensi platform ini, meski integrasi API ke perangkat lunak masih dalam tahap pengembangan.
Sebagai pemenang Iron A' Design Award 2025 di kategori Education, Teaching Aid and Training Content, Commi Board diakui atas inovasi, kepraktisan, dan kontribusinya dalam memperluas akses pendidikan elektronik. Dengan roadmap pembelajaran bertahap, komunitas aplikasi, dan desain modular yang fleksibel, Commi Board menjadi solusi ideal bagi pendidik, pelajar, dan penggemar teknologi yang ingin mengeksplorasi dunia prototyping elektronik secara lebih mudah dan menyenangkan.
Desainer Proyek: Kevin Yang
Kredit Gambar: Kevin Yang
Anggota Tim Proyek: Kevin Yang
Nama Proyek: Commi Board
Klien Proyek: Royal College of Art